False Consensus Effect

mengira semua orang setuju dengan pendapat ekonomi kita padahal tidak

False Consensus Effect
I

Pernahkah kita duduk di kedai kopi, berdiskusi hangat soal kondisi ekonomi, lalu bergumam dalam hati: "Gila, ini sih masuk akal banget. Semua orang waras pasti setuju sama ide ini"? Entah itu soal kenaikan upah minimum, pajak untuk orang kaya, atau sekadar urusan harga sembako. Kita merasa pandangan kita adalah sebuah kebenaran universal. Teman-teman satu meja mengangguk mantap. Kita merasa di atas angin. Namun, selang beberapa hari, kita membaca berita atau melihat hasil survei nasional. Kebijakan yang kita anggap "paling masuk akal" ternyata ditolak mentah-mentah oleh mayoritas masyarakat. Kita pun tercengang di depan layar ponsel.

II

Rasa kaget itu sebenarnya sangat manusiawi. Mari kita mundur sejenak ke tahun 1977. Seorang psikolog dari Universitas Stanford bernama Lee Ross melakukan eksperimen yang kini menjadi legenda. Ia meminta sejumlah mahasiswa berjalan keliling kampus memakai papan iklan besar bertuliskan "Makan di Joe's". Sebagian mahasiswa setuju untuk memakainya, sebagian lagi menolak. Menariknya, mereka yang setuju amat sangat yakin bahwa mayoritas orang lain juga pasti akan setuju. Sebaliknya, mereka yang menolak merasa sangat yakin bahwa hampir tidak ada orang yang mau melakukan hal sekonyol itu. Eksperimen sederhana ini membuka satu rahasia besar tentang cara kerja otak manusia. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan perut dan dompet, alias pandangan ekonomi. Saat kita yakin bahwa subsidi pemerintah harus dipotong demi menyelamatkan anggaran negara, kita refleks berasumsi bahwa mayoritas warga negara memikirkan hal yang sama.

III

Lalu, apa yang terjadi ketika realitas dengan keras menampar asumsi kita? Biasanya, kita tidak lantas duduk manis dan mengevaluasi opini kita. Otak kita justru langsung mencari kambing hitam. Kita mulai menuduh: "Wah, mereka yang nggak setuju ini pasti kurang edukasi," atau "Mereka pasti cuma termakan hoaks murahan." Kita tiba-tiba merasa hidup di tengah lautan manusia yang salah arah. Pertanyaannya, benarkah masyarakat yang salah kaprah? Atau jangan-jangan, ada semacam ilusi optik di dalam tengkorak kepala kita sendiri? Mengapa kita begitu sulit membayangkan bahwa orang lain bisa memiliki pengalaman hidup yang melahirkan pandangan ekonomi yang sama sekali bertolak belakang dengan kita?

IV

Jawabannya ada pada sebuah fenomena psikologis bernama efek konsensus palsu atau false consensus effect. Secara biologis, otak kita adalah mesin yang sangat pelit energi. Untuk memahami realitas ekonomi dunia yang kelewat rumit ini, otak menggunakan jalan pintas kognitif yang disebut availability heuristic. Otak memindai lingkungan terdekat kita—teman nongkrong, grup WhatsApp keluarga, algoritma media sosial—dan menjadikannya sebagai sampel realitas dunia secara keseluruhan. Kalau di lingkaran kita memotong subsidi itu dianggap langkah cerdas, otak menyimpulkan bahwa seluruh warga negara juga menganggapnya cerdas. Kita lupa bahwa algoritma media sosial didesain khusus untuk mengurung kita dalam echo chamber atau ruang gema. Kita hanya mendengar pantulan suara kita sendiri. Secara saintifik, otak akan melepaskan dopamin saat kita merasa terhubung dan sepemikiran dengan "kelompok" kita. Sebaliknya, ketika ada opini ekonomi yang menantang konsensus palsu ini, amigdala—pusat rasa takut di otak kita—akan menyala. Kita merasa diancam. Alhasil, kita gagal melihat fakta yang sangat mendasar: seorang pedagang pasar tradisional memiliki realitas dan kecemasan finansial yang jauh berbeda dengan seorang pekerja kantoran di gedung pencakar langit.

V

Memahami sains di balik ilusi otak ini bukanlah ajakan untuk berhenti meyakini prinsip ekonomi yang kita pegang teguh. Bukan berarti opini kita selama ini pasti salah. Ini sekadar pengingat yang rendah hati bahwa lensa kacamata kita tidak mewakili penglihatan semua orang. Teman-teman, realitas ekonomi itu berlapis-lapis. Apa yang terasa seperti "logika dasar" bagi kita, bisa jadi merupakan "ancaman kelaparan" bagi orang lain di luar lingkaran kita. Jadi, saat kelak kita berdiskusi lagi soal kebijakan ekonomi dan merasa seluruh dunia pasti sepakat dengan kita, cobalah tarik napas sejenak. Beri jeda pada otak kita. Mungkin ini saatnya kita keluar dari ruang gema yang nyaman itu, duduk bersama mereka yang berseberangan, dan mulai mendengarkan cerita yang selama ini luput dari layar ponsel kita.